Jumat, 21 Juni 2013

SINTESIS IODOFORM ( CHI3 )

SINTESIS IODOFORM
( CHI3 )

Abstrak
Dalam mensintesis iodoform, kita dapat mempelajari reaksi halogenasi alfa (α) pada senyawa karbonil. Halogenasi alfa disebut uji iodoform untuk metil keton. Gugus metil dari suatu metil keton diiodinasi bertahap sampai terbentuk iodoform (CHI3) padat berwarna kuning. Sintesis iodoform dibuat secara langsung dari aseton, I2 dan NaOH menghasilkan rendemen rata-rata dari 6 kelompok yaitu 83,09% dengan titik lebur yang mendekati teoritis 119C-123C. Hasil kristal yang diperoleh berwana kuning dengan bau yang menyengat.

BAB 1. PENDAHULUAN
I. DASAR TEORI
Iodoform adalah senyawa yang dibentuk dari reaksi antara iodine dengan etanol/aseton dan asetaldehida dalam suasana basa. Iodoform dapat digunakan sebagai desinfektan dan antiseptic luar. Reaksi iodoform adalah reaksi haloform dimana dalam reaksi tersebut digunakan iodide dari larutan alkali hidroksida (NaOH dan KOH) sehingga menghasilkan iodoform (Anonim, 2010).
Halogenasi alfa merupakan dasar suatu uji kimia, yang disebut uji iodoform, untuk metil keton. Gugus metil dari suatu metil keton diiodinasi bertahap sampai terbentuk iodoform (CHI3) padat berwarna kuning.
            Dalam tahap pertama dalam reaksi bersuasana basa adalah pembentukan ion enolat. Anion suatu keton dengan gugus karbonil merupakan basa yang jauh lebih kuat daripada ion hidrosida. Oleh karena itu kesetimbangan asam-basa lebih menyukai ion hidroksida daripada ion enolat. Meskipun begitu, terdapat juga sedikit ion enolat dalam larutan basa. Segera setelah anion ini habis terpakai, akan terbentuk lagi yang baru, untuk menuju ke Tahap 2. Dalam tahap 2, ion enolat secara cepat bereaksi dengan halogen, menghasilkan keton terhalogenasi alfa dan ion halida. Halogenasi alfa dalam suasana asam biasanya memberikan rendemen yang lebih baik daripada reaksi dalam suasana basa. Reaksi berkatalis asam berlangsung lewat enol, yang pembentukannya merupakan tahap penentu laju. Ikatan rangkap karbon-karbon dari enol itu mengalami adisi elektrofilik, sama seperti setiap ikatan rangkap karbon-karbon apa saja, untuk membentuk karbonkation yang lebih stabil.
            Brom dan klor juga bereaksi dengan metil keton, menghasilkan masing-masing bromoform (CHBr3) dan kloroform (CHCl3). Istilah umum untuk menyebut CHX3 ialah “haloform” maka reaksi ini sering disebut sebagai reaksi haloform. Karena bromoform dan kloroform merupakan cairan yang tidak mencolok, maka pembentukannya tak berguna untuk maksud uji. Namun, reaksi antara suatu metil keton dengan setiap halogen tersebut memberikan suatu metode pengubahan metol keton ini menjadi asam karboksilat. Ikatan karbon-hidrogen biasanya stabil, nonpolar, dan pasti tidak bersifat asam. Tetapi dengan adanya suatu gugus karbonil terjadilah hidrogen alfa yang bersifat asam (Fessenden&Fessenden, 1982, Hart, Hold., 2003).
Iodum mengandung tidak kurang dari 99,8 % dan tidak lebih dari 100,5 % I. Pemerian keping atau granul, berat, hitam keabu-abuan, bau khas, berkilau seperti metal. Kelarutan sangat sukar larut dalam air, mudah larut dalam karbon disulfida, dalam kloroform, dalam karbon tetraklorida dan dalam eter, larut dalam 13 bagian etanol (95%)P dan dalam larutan iodida, agak sukar larut dalam gliserin. Khasiat dan penggunaan Antiseptikum ekstern dan antijamur (Anonim, 1979, Anonim, 1995).



Ahyari, Jimmy. 2008. Yodoform/Iodoform. http://blogkita.wordpress.com/yodoform.iodoform. diakses   pada             tanggal 16 Juni 2012.
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI: Jakarta.
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI: Jakarta.
Fessenden & Fessenden, 1982, Kimia Organik Jilid 2 Edisi III, Erlangga, Jakarta.
Hart, Hold., 2003, Kimia Organik, Erlangga, Jakarta.
Vogel Al,1968, A Text Book Of Practical Oragic Chemistry Third edition, English Language Book Society  and Longmans Green & Co. Ltd, London.

Kamis, 20 Juni 2013

FLOW INJECTION ANALYSIS



Konsep analisis injeksi alir (FIA) diperkenalkan pada pertengahan tahun tujuh puluhan. Ini didahului oleh keberhasilan analisis aliran tersegmentasi, terutama dalam analisis klinis dan lingkungan. Ini kemajuan, serta pengembangan monitor terus menerus untuk pengendalian proses dan monitor lingkungan, memastikan keberhasilan metodologi FIA. Sebagai sarana yang sangat efektif mekanisasi untuk berbagai prosedur analisis kimia basah, metodologi FIA, digunakan dengan persenjataan seluruh metode deteksi kimia analisis modern, terbukti menjadi perhatian besar bagi banyak orang.
Perkembangan cepat dan intensif dari metodologi FIA disebabkan oleh beberapa faktor penting bagi penentuan analisis rutin, seperti konsumsi sampel sangat terbatas, waktu analisis singkat berdasarkan pengukuran sinyal transien dalam detektor flow-through dan on-line menjalankan operasi pemisahan yang sulit, prekonsentrasi atau konversi fisikokimia analit menjadi spesies terdeteksi.
Dua puluh tahun penelitian oleh sejumlah kelompok peneliti di seluruh dunia telah memberikan kemajuan yang signifikan dalam deskripsi teoritis fenomena dispersi dalam operasi FIA dan berbagai pengobatan fisikokimia analit. Volume ini dikhususkan untuk penyajian status pengembangan instrumentasi untuk FIA dan banyak bidang aplikasi praktis, berdasarkan bibliografi ekstensif publikasi riset asli (Trojanowicz, 2000).
Injeksi alir analisis (FIA) adalah sebuah pendekatan untuk analisis kimia yang dilakukan dengan menyuntikkan sebuah plug sampel ke dalam aliran pembawa mengalir. Prinsipnya mirip dengan analisis aliran tersegmentasi (SFA), tetapi tidak ada udara yang disuntikkan ke dalam sampel atau aliran reagen (wikipedia).
  Arus analisis injeksi tidak harus dijelaskan. Hal ini harus ditunjukkan. FIA meliputi dalam manipulasi mikofluida sampel dan reagen. Sampel yang disuntikkan ke dalam larutan pembawa / reagen, yang mengangkut zona sampel ke detektor sementara diinginkan reaksi biokimia terjadi. Respon Detector menghasilkan kurva kalibrasi mengukur analit sasaran. Dengan demikian, FIA didasarkan pada tiga prinsip:
1)Sampel direproduksi suntikan atau penyisipan menjadi pembawa mengalir stream.
2)Controlled dispersi dari sampel zone.
3)Direproduksi waktu gerakan dari titik sampel injeksi dengan sistem deteksi.
(M.C.Biurrun, 2009)
PENUTUP
I.                   KESIMPULAN
Analisis injeksi aliran (flow injection analysis, FIA) adalah salah satu metode kimia basah yang telah diperbarui. Dasar teknik tersebut adalah bahwa sampel disuntikkan ke dalam aliran reagen yang mengalir secara kontinu. Sampel bereaksi dengan reagen dan reaksi ini di ukur dengan suatu detektor.
Parameter-parameter yang dapat dioptimasi ialah :
-            Panjang dan diameter dalam kumparan inkubasi
-            Laju aliran
-            Volume sampel yang disuntikkan
-            Konsentrasi sampel dan pereaksi yang digunakan
Peranan FIA dalam analisis farmasi :
-          Penentuan Kloroksin
-          Penentuan Kaptopril
-          Penentuan Obat Antiinflamasi Nonsteroid
-          Penentuan Klorokresol
-          Penentuan Prometazin
-          Uji Batas untuk Logam Berat
-          Penggunaan Aliran Tersegmentasi dalam Penentuan Koefisien Partisi
-          Pengujian Disolusi Terotomatisasi





II.                Daftar Pustaka
Biurrun, Yebra, M.C., 2009, Flow injection analysis of marine, New York : Nova Science Publishers, Inc. ISBN 978-1-60876-566-9 (E-Book)
Trojanowicz, Marek., 2000, Arus injeksi analisis: Instrumentasi dan aplikasi, Singapura: Dunia Ilmiah. ISBN 981-02-2710-8
Watson, D.G., 2005, Pharmacheutical Analysis 2e, Oxford United Kingdom : Elsevier Limited.